Kawasan sawah terasering Jatiluwih di Tabanan diusulkan menjadi salah satu warisan dunia. Usulan ini mencuat karena keunikan sistem irigasi tradisional subak yang telah diwariskan turun-temurun. Sistem itu dianggap mampu menjaga keseimbangan alam sekaligus hasil pertanian.
Subak bukan sekadar saluran irigasi, melainkan lembaga sosial yang mengatur pembagian air secara adil. Nilai-nilai gotong royong di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dan wisatawan.
Pemerintah daerah mendukung penuh pengusulan ini. Mereka menyiapkan dokumen pendukung berupa data ekologis, sejarah, dan sosial budaya. Diharapkan pengakuan internasional dapat mendorong pelestarian yang lebih serius.
Para petani berharap status warisan dunia tidak justru membuat harga lahan melambung. Mereka ingin tetap menggarap sawah dengan tenang tanpa tekanan alih fungsi lahan.
Kawasan Jatiluwih selama ini menjadi tujuan favorit wisatawan yang mencari suasana sejuk dan pemandangan hijau. Jalur trekking di antara terasering menjadi andalan bagi pencinta alam.
Bila usulan diterima, Jatiluwih akan melengkapi daftar situs budaya Bali yang diakui dunia. Hal ini diyakini memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya kelas dunia.





