Sejumlah banjar di Bali mulai bersiap menyambut Hari Raya Nyepi. Para pemuda membuat ogoh-ogoh, patung besar berwujud makhluk mitologi yang akan diarak pada malam pengerupukan. Aktivitas ini menjadi tradisi tahunan yang dinanti warga.
Pembuatan ogoh-ogoh dilakukan secara gotong royong di balai banjar. Bambu, kertas, dan kawat menjadi bahan utama. Pemuda banjar bahu-membahu merangkai kerangka hingga menjadi bentuk yang menyeramkan namun artistik.
Tema ogoh-ogoh tahun ini banyak mengangkat isu sosial, seperti bahaya narkoba dan dampak sampah plastik. Warga berharap pesan moral itu sampai kepada masyarakat, terutama anak muda.
Selain hiburan, pembuatan ogoh-ogoh mempererat kebersamaan antarwarga. Biaya pembuatan biasanya ditanggung bersama melalui sumbangan sukarela dan dana banjar.
Nanti pada malam pengerupukan, ogoh-ogoh akan diarak keliling desa disertai bunyi-bunyian kentongan. Setelah itu, ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pembersihan diri dari pengaruh negatif.
Rangkaian Nyepi diakhiri dengan Catur Brata Penyepian, yaitu sehari penuh hening tanpa aktivitas seperti biasa. Momen ini menjadi waktu untuk refleksi diri bagi seluruh umat.





